Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2023

Trauma

Datang tanpa tanda Menetap lama dalam raga Muncul bersanding duka Pergi meninggalkan lara Tak mampu percaya Kilasan kelam merajalela Hanya secarik kata Menetes air mata Mengalir bebas Hati ini kebas Spiritual terkuras Hak bahagia tertindas  Impian ini dirampas Manusia pemuja iblis Pemberi janji manis Nyata sekedar ampas Harapan tak terbalas Hubungan berakhir kandas 

Bunda Ramalla

 Bunda.... Kau dendang kan lagu Kidung pelipur lara ku Rela kau tukar nyawa Mempertemukan ku dengan dunia Peluh basahi  wajah mu Senyum merekah dibalik wajah sayu Lelah menjemput mu Langit turut menemani Terdengar tangis menghibur hati Namun, bumi berduka Menyaksikan mu meregang nyawa Demi kelahiran anak tercinta

Gerimis

Gerimis..... Samar kan bau amis  Diantara baju gamis Ternoda lendir tangis  Akan janji mu yang lamis Terucap di bibir manis Gerimis.... Bisakah kau menjauh Aku lelah Mengusap tetesan air  Jatuh tanpa henti Tak ada sepotong kain   Untuk menutupi angan Yang penuh akan keraguan Saat mengarungi kehidupan

Hujan

Netraku terbelenggu hujan Menetes deras tanpa henti Sepilu kilasan angan Yang penuh akan kenangan Tiada tempat untuk singgah Menyingkap rasa lelah Dahi terbasahi peluh Ingin ku membasuh Segala keluh kesah  Hati ini merasa resah Akan luka Tercipta dibalik khayal Hingga hidup penuh sesal

Kopi

Semua insan memuja mu Terpikat akan rasa Tak mampu lagi untuk mendua Gula ingin bersua Bersama mu wahai kopi arabika Kopi.... Teman ku dikala sepi Bersandingkan segengam tembakau Terbakar menjadi abu Menghempas perasaan sendu Yang melingkupi kalbu Hingga kau menjadi candu Hampa tanpa bersama mu Seperti merapi tanpa merbabu

Gagak

Suara mu membuat ku resah Hati ini mulai gelisah Akan semua kilasan Peristiwa pilu penuh tangisan Darah basahi pakaian Mata terpejam dibalik pelukan Hangat dan nyaman Bibir tertarik membentuk senyuman Raga terbebas akan kedustaan Jiwa berjalan menuju abadi Tiada rasa iri dengki Menaungi hati ini Gagak... Sampai kan pesan ku Berbahagia lah kasih ku Sapu air mata mu Ikhlas lepas kepergian ku Untuk bertemu mahabbah ku

Purnama

Datang mu begitu singkat Tak terasa terbius pesona Kecantikan sang dewi kirana Namun muram seketika Didekap batara kala Gagah berani bagaikan werkudara Egois dan bengis seperti durgala Ingin keabadian Hidup bersama sang pujaan Dalam aliran ikatan percintaan Angan menuju kesempurnaan Terwujud penuh kesengsaraan

Menunggu

Rindu.... Ku rela menunggu.... Kedatangan kekasih ku Tak tau kemana pergi mu Tinggalkan luka dan sendu Kekasih.... Mengapa kau pergi Tanpa ada yang menemani Di setiap langkah membelah sepi Saat malam menuju pagi Ingin ku berlari Menemani mu mengasingkan diri Tanpa harus tersakiti Menerima kabar tak pasti

Arjuna

Peluh keringat basahi pipi Tanpa sadar kau belai Memerah seiring rasa ini Hatimu tulus suci Meramalkan mantra cinta Tanpa sadar terpesona  Akan cara mu menaklukkan api Yang membara dalam hati Percaya takdir? Bisakah ku menghindar Takut namun kalut Akan semak belukar Datang memberi kabar Hangus sudah gulungan tikar Musnah sudah ikatan takdir Yang terukir indah dalam kitab Ialah kitab filantropi

Dandelion

Tumbuh indah diatas lembah Terbang bebas tertiup angin Unik parasmu Tiada yang meniru kan mu Apalagi menyaingi mu Dandelion.... Terbangkan pesan ku  Pesan tulus untuk dia Yang berjuang meraih asa Menyembuhkan torehan lara Ntah maya ataupun nyata Ingin ku hanya satu Melihat dia tersenyum bahagia

Kuat

Yakin kau kuat Tanpa ada penyemangat Hatimu akan menghangat Ketika  jiwamu melekat Saat iman mu meningkat Tuhan mu akan mendekat Sedekat impian menuju akhirat Harapan seluruh umat Berjumpa dan berkhalwat Kepada tuhan mu penyedia seluruh nikmat Gratis dan mudah kau dapat Tanpa harus mendaki bukit Meraih semua nikmat Yakin jiwamu kuat Ingat masih ada penyelamat  Di masa yang kelam dan sulit Lupakan dan tiada lagi kau ungkit Kau akan sakit Tiada obat ampuh Selain berdoa dan bersimpuh

Baper

Wahai pemuda... Mari kita bertemu Dalam mimpi terindahmu Cukup pejamkan mata Jiwa ku akan menghampiri Tanpa kau panggil Ingat kau akan kembali Saat azan berkumandang Segeralah datang Dirikan lah ibadah Lantunkan keluh kesah Kepada sang kekasih Semoga setiap doamu akan diijabah Menyatukan kita dalam takdir yang indah

Tetesan air

Air... Teruslah mengalir Tanpa rasa takut tersingkir Mungkin hanya takdir Penilai awal dan akhir Impian insan yang terlahir Memulai hidup dan berkarir Pernah kah kau berpikir Kapan jiwamu akan lelah Akan semua keluh kesah Yang buat hati resah Akan datangnya masalah Mendadak, tak terarah Hanya tersimpuh dan pasrah

Hidup

Hai.... Ingat dengan kudapan Begitu menggoda iman Begitu juga harapan Begitu fana tapi nyata Oh iya.... Apakah mati itu tujuan akhir Pernah kah kau berpikir Pilu hasilkan sendu Ingin kah kau mengadu Lelah... Bersandar lah sejenak  Ku jamu dengan gudeg terenak  Berjalan perlahan  Tiada kehidupan tanpa kesedihan Tuhan akan menunjukkan jalan Selama hidup berhiaskan kebajikan

Eyang

Eyang...... Dekapan mu hilangkan lara Belaian mu tenangkan raga Tatapan mu kuatkan asa  Suara mu pulihkan duka  Eyang.... Aku rindu Lama kau meninggalkan ku Menyusul kekasih tampan mu Bergandeng tangan bertemu rabb mu Eyang... Apa engkau bahagia? Cintamu tulus tak pernah mendua Engkau merawatku  Menyayangi ku seperti anak mu Eyang... Tunai sudah impian mu Tak lagi sakit raga mu Ikhlas melepaskan mu Hingga berharap di jannah kita bertemu

Soulmate

Hai kamu.... Hadir mu mehangat kan kalbu Selalu berharap untuk bertemu Namun terhalang jarak dan waktu Panjatkan doa kepada tuhan Hingga tiada lagi halangan Tercipta kilasan cerita Perjalanan pertemuan kita Baik sedih dan bahagia Hai kamu.....  Bosan menunggu ku? Yang selalu memberi Memberi harapan yang tak pasti Tanpa sadar selalu menyakiti Hai kamu.... Maaf kan aku Yang kerap meragukan mu Egoku terlalu jeru Hingga tak mengerti cinta tulus mu

Dagu

Hai dagu... Mengapa kau ragu Akan sifat polos dan lugu Terbalut cerita masa lalu Terbungkam seluruh raga ku Bahagia... Mungkin tak pernah lega Akan masalah tiada batas Hingga lemas berujung sia Bolehkah ku menangis Meredakan hati yang teriris Akan sembilah pisau  Tak berwujud namun tembus hingga kalbu

Kaki

Hai kaki.... Apakah kau tak lelah Terus melangkah tanpa arah Hingga luka dan berdarah Bentuk mu sempurna Mata ini terpana Melihat tekad mu yang ganas Rela menerjang hujan dan panas Namun, kau tragis Terbaring lemas  tanpa alas

Langit

Hai langit.... Mengapa kau bersedih Hingga jiwa ini lupa Akan letak sajadah Tempat ternyaman setelah lembah Menyalurkan seluruh kisah Baik suka maupun duka Biarlah menjadi rahasia Antara aku dan sang penyembuh jiwa  

Kamu

Hadirmu membuat ku ragu Poleskan lara dalam kalbu  Egomu setinggi gunung mahameru Hingga membuatku diam dan membisu Bolehkah ku menjauh Mencari ruang tuk bersimpuh Memikirkan kemana hati ini kan berlabuh Terimakasih.... Telah merangkai kisah  Diantara aku dan kamu Yang tak penah bertemu apalagi bersatu Kamu.... Hatimu bukan milikku Hatimu memilih selain diriku Bukan masalah jarak dan waktu Namun hanya kamu yang tau

don't be afraid with satan

Hai kamu.... Mengapa engkau ragu Akan perasaan dalam kalbu Setiap saat kau bertemu  Dengan sang penyembuh segala sendu Namun rasa takut untuk maju Menggapai harapan tertulis Kan berubah oleh tipu daya Melemahkan jiwa dan raga Yang tak disertai dengan doa Hingga tak ragu merangkai dosa Oh tuhan ku... Ampunilah segala perbuatan Yang terlena akan kemaksiatan Tertipu rayuan  Salah satu makhluk yang engkau ciptakan Yang kekal abadi sampai akhir zaman Hai kamu... Jangan kau ragu Mempertahan kan doa yang menyelimuti kalbu Bertemulah dengan tuhan mu Waktu akan terus berlalu Tak bisa mengubah yang lampau Sesal sudah tertutup usia mu

Tersesat

Tiada daya tuk melangkah Raga mulai lelah Peluh bercampur darah Tercecer di sepanjang jalan  Jalan menuju kebahagiaan Bertemu sang pemilik kehidupan Tiada tau arah Hati resah dan gelisah Hanya berharap dan pasrah Berharap kemudahan datang tanpa celah Ya Allah.... Aku ragu Melangkah mundur atau maju Melanjutkan impian yang kelabu Akan kah menjadi cerah Secerah sunrise di ufuk timur Sehangat sunset di ufuk barat Sedingin angin di dieng Apalagi rindu pelukan si dia Yang penuh kasih sayang

Dia

Hai kamu.... Iya kamu.... Akan kah kita bersatu? Tanpa terhalang restu Aku mulai ragu Kau tak sehangat yang dulu Akan kah mulai jenuh? Tak sadar mulai jauh  Tak sanggup tuk bertahan Akan hubungan yang penuh harapan Aku lelah.... Ingin menepi Dari status tanpa pasti Sebatas sebutan bestie Terus bahagia tanpa batas Biarlah hubungan kita berbatas Tak harap tuk berbalas Senang menjadi support sistem Selalu ada dan ada

Asing

Hadir mu penuh tanya Pertemuan yang singkat Malu ingin mendekat Ragu untuk menjauh Penasaran menyelimuti kalbu  Saat dekat... Insecure mulai melekat Akan paras mu yang memikat Pesonamu mengalahkan manisnya cokelat   Hanya bisa memandang Tiada daya tuk berjumpa Menjelajahi semua tempat Merangkai cerita yang penuh kenangan Tapi itu hanya sekedar hayalan Antara aku dan dia

Lelah

Semilir angin malam Raga remuk redam Diterpa emosi tak kunjung padam Ego mendominasi Seperti bubur nasi Lumer enaknya cuma dipanasi Wahai pujaan hati Dimana kau berada? Hanya bisa bersua di sepanjang doa Yang ku lantunkan kepada tuhan mu Rindu menghampiri kalbu Tenang sabar dan ikhlas Hingga rindu kan hilang tak berbekas

Bingung

Pikiran rumit Serumit benang terlilit Sulit terurai Tak perlu mengandai  Ikuti langkah kaki Mencari tempat berpijak  Diantara curamnya curug Nikmati akara senja Terpesona sang surya Kembali menuju singgasana

Ibu Pertiwi

Tangismu menyayat hati Tawamu pelipur lara Kau lindungi beribu nyawa Di balik panji asma Tak rela ditiru Hanya sama melayu Wahai tetanggaku.... Enaknya cuma merayu Ego mu terlalu jeru Takut tersaingi jaya ku Perjuangan ku terlalu sakit Jangan pernah kau ungkit Masa masa sulit Penjajah selalu melilit Hanya doa ku melangit Sungkan lah plagiat Berdiri sendiri Tanpa ada rasa iri Akan pujian luar negeri

Eluh

Mbebes tanpa eling Mili lelara ning ati Ninggal tatu Ajrih saestu Netra blawur Pangucap ngawur Ruwet pikir Polah tanpa arah Awak kang ringkih Kepengen pulih Sampun panggih Gusti kang maha asih

Shinta

Paras mu yang cantik Buat hati ini tertarik Akan pesona mu yang unik Terpana akal mu yang cerdik Memikat hati sang rama Bersatu dalam ikatan cinta Perasaan iri angkara murka Rahwana raja alengka Gigih memperjuangkan cinta Pisahkan insan kasmaran Menuju ke atas awan Dibelenggu jeruji kepiluan Terjerat rasa keraguan Hati sang pujaan

Mendut

Rara Mendut Pesonamu memikat Kulit mu langsat Senyum mu semanis cokelat Tuhan jahat? Terpisah belahan jiwa Pranacitra nama nya Linting daun terhisap Terbang bebas kepulan asap Oh tumenggung..... Ego mu tinggi melambung Tiada rasa canggung Niat mu terselubung Hati meradang Culik jalan mu yang licik Terbelenggu sangkar emas Pisah raga sembilah keris

Diri sendiri

Manis senyum mu Tiada yang mampu Menyaingi ketulusan mu Angin pun malu Bertemu dan menyapa mu Siapa nama mu? Fajriana nama mu Rasa ingin mengenal mu Hati ini terpikat Ingin dekat Namun, terpisah sekat Sekat jarak dan waktu Hanya lewat doaku Menyapa tiada jemu

Pinggir lapangan

Pinggir lapangan Dinaungi pohon rindang Tempat ternyaman setelah ranjang Mengukir kilasan cerital Baik suka maupun duka Terpatri jelas di pelupuk netra Ditemani segelas es teh Melegakan dahaga raga Di balik pancaran Surya Tanpa lelah menyinari dunia

Jiwa yang berteduh

Jiwa ku berteduh Dibalik kain lusuh Teronggok di tempat kumuh Bolehkah mengeluh? Akan kisah Penuh tetesan air mata Terbendung diantara pusara Raga tanpa nama Bersemayam bahagia di keabadian Bercengkerama dengan Tuhan Inilah akhir kehidupan 

Ilusi

 Ada dan tiada Bagai angin datang tanpa kabar Bisa kah memudar? Dibalik tawa yang hambar Runtuh dan hancur Terbang bebas tanpa arah Tiada rasa untuk kembali Menepi di tempat sunyi Tanpa cahaya yang menyinari Rasa takut tak bertepi Mengikuti melodi jiwa Bersemayam di dalam raga Menyatu aliran darah Menggoda akal Menciptakan ilusi yang kekal

Glockenspiel

  Glockenspiel mulai bernyanyi Menghibur hati Yang menangis tanpa henti Di kala senja memeluk langit Raga mulai lelah Dibalik senyum yang merekah Tanda tiada rasa goyah Setiap kaki melangkah Ada secercah harapan Mencapai kehidupan yang mapan

Mbak

 Mbak..... Kaulah pelindungku Kaulah pelipur laraku Ditengah tepaan badai tak kunjung reda Kau datang bawakan selimut sutra Lapar dan dahaga Se cangkir es kopi tersaji di meja Se mangkuk seblak menggugah selera Akan kah kau selalu ada? Menemaniku menghadapi dunia Mbak.... Apa takdirku sama? Seperti takdirmu yang penuh warna Apa aku terlalu memaksa? Hingga tak mampu berpikir Antara ekspektasi dan realita Seperti kotak pandora Datang membawa lara Pergi tinggalkan luka

Takdir Tertahan

 Perasaan menyayat kalbu Hadirkan secercah harapan Harapan semu tak kunjung kabul Raga lelah,hati rapuh Lemah,letih,lesu Ingin berlari Menepi sejenak pulihkan raga Luka berbekas Adakah salon pas? Tak ingin mengulang Apalagi bertahan Ingin menjauh secara perlahan Dari dunia percintaan  Terlalu bucin Hanya akan berakhir kan ratapan

Lelaki ku

  Hadirmu warnai hidup ku Tempat ternyaman setelah bapak ku Ku sebut namamu disetiap doa ku Cintamu tulus tak bertepi Senyum mu bagaikan mentari Yang selalu hadir  Disetiap momen hidup ini Tak perlu bertanya Seberapa sayang ku kepadamu Tak bisa ku ungkapkan Walau lewat kata- kata Hanya bisa ku ungkapkan Lewat doa harapan kepada pemilik kehidupan Wahai lelaki ku Kucintai setelah bapak ku Kau tahu? Tak mudah mencintai Setiap lelaki yang ku temui Hati telah memilih Tak bisa mengelak apalagi mengalah Hanya pasrah .... Kau tau? Cinta ku tulus Tak peduli status Ku harap tak kan terlepas Walau raga mulai melemas Hingga tak terdengar hembusan nafas

Kehidupan

 Bercerita akan peradaban Terjalin suatu hubungan Insan dilanda mabuk asmara Berlafadz kan cinta yang setia Bagaikan kisah adam dan hawa Bersatu dibawah naungan doa Tanda takdir tak kan mendua Oh Tuhan..... Hidup tak ada kepastian Selalu diiringi keluhan Akan nasib yang kau berikan Apa ini cobaan? Hadirkan kepasrahan Berakhir dengan senyuman

Lelaki

  Kaum tercuek Tanpa ragu mengukir Lara di hati wanita Yang penuh kerapuhan Hai lelaki..... Hanya bisa mencela Tak mampu membela Dari ocehan ibu kau Yang sinis apalagi apatis Akan sikap ku yang selalu salah Hanya mampu berkeluh kesah Akan nasib yang ku terima Sabar ku berbatas Setitik air menetes Berubah jadi aliran yang deras Basahi pipi,basahi hati Hanya mampu berserah diri Kepada sang pembolak-balik hati

Ratapan

  Entah dosa apa Hadirkan setitik lara Hati sang wanita Tangis basahi pipi Ditengah malam yang sepi Hanya mampu tuk menepi Kuatkan hati Sambut hari yang berseri Seperti senyuman sang mentari Yang selalu menyinari bumi Dengan setulus hati Tak mampu tuk memegang Hanya bisa memandang Tak mampu berpaling Hanya bisa memohon Panjatkan doa kepada tuhan Agar selalu melimpahkan keberkahan Di setiap langkah menikmati kehidupan

Kenangan

                              Kenangan Wahai kawan ku.... Tak terasa kita kan berpisah Air mata tumpah ruah Ingatlah perjumpaan kita Kuatkan raga dan jiwa mu Agar tak terasa berat  Melalui semua kenangan Tercipta diantara kita Baik sedih maupun bahagia Akan terukir abadi  Dalam sebuah kilasan Kan terkenang sepanjang hayat Pinta ku hanya satu Tetaplah bersatu dalam ikatan Ikatan persahabatan Kita hanya berpisah sejenak Kita kan berjumpa lain waktu Rayakan reunian angkatan Dengan berjuta cerita Kan tercipta elok nan rapi Cerita perjalanan meraih impian Oh sahabat ku.... Jangan bersedih Kuat lah seperti mentari Walau kadang tertutup awan Ia selalu menyinari bumi Dengan setulus hati Teman teman ku.... Doa ku sederhana Semoga kita kan terus berjumpa Berbagi cerita Mengenang masa yang indah Tercipta diantara kita